Postingan

Masalah Sampah dan Drainase Kota Betun Memprihatinkan, Begini Tanggapan Ketua Komisi III DPRD Malaka.

Jurnalinti24news

 

Betun, Masalah sampah dan saluran air atau drainase di area Kota Betun terlihat makin memprihatinkan. Kedua masalah ini menyebabkan Ibu Kota Kabupaten Malaka ini terlihat kumuh dan terendam air ketika hujan deras mengguyur Kota Betun. 


Ketika diwawancarai media ini, selasa, 11/02/2025, seusai rapat Komisi III, Maria Fatima Seuk Kain, mengatakan dirinya bersama teman-teman Komisi sudah menggelar rapat Komisi bersama pihak Dinas Lingkungan Hidup terkait sampah dan bersama Dinas PUPR terkait persoalan drainase Kota Betun. 


"Tadi kita sudah bahas mengenai masalah sampah ini dengan Dinas Lingkungan Hidup. Titik persoalannya ada dua, pertama, pihak Dinas Lingkungan Hidup mengeluh tentang kekurangan tenaga daerah atau petugas kebersihan dan yang kedua, menyangkut perilaku masyarakat". 


"Tenaga kebersihan kita sangat terbatas. Jumlahnya sekitar 58 orang. Dari jumlah ini, 7 orang sudah ditugaskan di TPA untuk memilah sampah organik dan non organik, sedangkan yang lainnya bertugas sebagai sopir mobil sampah, jadi praktis yang aktif bekerja hanya sekitar 28 orang saja, jadi ke depan kita usulkan untuk tambah tenaga kebersihan."


Masih menurut Ketua Fraksi Partai Golkar ini, perilaku masyarakat juga beri dampak terhadap masalah sampah ini. Dirinya mencontohkan, masyarakat harus sudah keluar buang sampah pada jam 5 sampai dengan jam 6 pagi agar pihak petugas kebersihan bisa segera mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Akhir(TPA). 


"Karena itu, kita mesti banyak sosialisasi kepada masyarakat khususnya di wilayah Kota Betun terkait tertib membuang sampah dan sesuaikan dengan waktu kerja petugas kebersihan agar tidak ada sampah yang tertinggal saat petugas kebersihan bekerja". Lanjutnya. 


Sedangkan, mengenai masalah drainase, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Malaka, Paul B. Miki, ST., menjelaskan bahwa kondisi saluran air atau got saat ini harus diperlebar dan buangan airnya harus dirancang sampai hilirnya. Sebab, dengan kondisi saat ini, jika curah hujan cukup besar maka saluran air yang ada tidak mampu menampung debit air yang besar sehingga menyebabkan luapan ke badan jalan dan menggenangi rumah-rumah warga setempat.(RB*)