Makassar, 15 Februari 2026 – Dalam upaya mempererat tali persaudaraan antar-etnis dan memperkokoh nilai kebangsaan, tokoh masyarakat Ir. Arwan Tjahjadi menginisiasi acara “Dialog Budaya: Tionghoa Dalam Kebinekaan” yang berlangsung di Aula Museum Kota Makassar, Jalan Balaikota No. 11, minggu 15/02/2026
Acara yang berlangsung mulai pukul 15.30 hingga 18.00 WITA ini menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka sebagai pemateri, di antaranya Dr. Mukhlis Paeni, MA, Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH., dan Ir. Arwan Tjahjadi sendiri, dengan dipandu oleh moderator apt. Drs. George Nurtani, MM..
Turut di hadiri Ketua DPD Permabudhi (Sulawesi Selatan): Dr. Ir. Yonggris, M.M, Ketua Permabudhi Kota Makassar Suzanna, S.E., M.Pd, Camat Wajo Ivan Kalalembang (menjabat sebagai Plt. Camat Wajo per 6 Februari 2026 setelah pelantikan pejabat administrator lingkup Pemkot Makassar), Pembimas Buddha (Kanwil Kemenag Sulsel) Sumarjo, S.Ag., M.M. Perwakilan Pemerintah Kota Makassar (Dinas Kebudayaan / Dinas Pariwisata Kota Makassar), Perwakilan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Selatan/Makassar, Perwakilan Perhimpunan Inti (Indonesia Tionghoa) Sulawesi Selatan, perwakilan Tokoh Lintas Agama (Perwakilan FKUB Kota Makassar), perwakilan Akademisi & Peneliti Sejarah dari Universitas Hasanuddin dan UNM, Aktivis Budaya dan Seniman Lokal Makassar dan perwakilan Organisasi Kepemudaan (OKP) di Kota Makassar.
Dalam pemaparannya, Ir. Arwan Tjahjadi menekankan pentingnya merawat harmoni budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas warga Makassar. Sebagai sosok yang aktif mengampanyekan pelestarian budaya Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar (P2TM), beliau memandang dialog ini sebagai wadah refleksi untuk melihat kontribusi etnis Tionghoa dalam bingkai kebinekaan Indonesia yang lebih luas.
“Mari kita hadir dan menjadi bagian dari percakapan kebangsaan yang memperkuat harmoni dalam Kebhinekaan Indonesia,” Ujar Arwan Tjahjadi dalam ajakannya sebelum acara dimulai.
Dialog ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, tokoh lintas agama, hingga generasi muda, yang antusias mendiskusikan sejarah dan peran kultural komunitas Tionghoa di Makassar.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Museum Kota Makassar tidak hanya sekadar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi panggung hidup bagi refleksi nilai-nilai toleransi dan persatuan di Kota Daeng.
Mhi LiNa, SE