Postingan

Banjir Di Jalan Layang Daan Mogot Cermin Perencanaan dan Pelayanan Setengah Hati Dari Pemerintah*

Jurnalinti24news

 





Jacob Ereste :



Musim hujan dan kemarau yang tidak menentu, seakan sedang menggambarkan kondisi dan situasi politik di tanah air kita yang sulit diduga sebelumnya. Seperti pelaksanaan hukum yang kacau, persis seperti hujan pada hari Kamis, 25 Juni 2026 di Jakarta dan sekitarnya, membuat warga Tangerang dan Banten menuju Jakarta menjadi takjub melihat dan mengalami langsung kondisi banjir justru terjadi di atas jalan Layang, Peding, Daan Mogot juga jalan layang Roxi, Jakarta Barat.


Kejadian dari suasana banjir yang sungguh  mencengangkan ini, seperti sedang mengingatkan pada kondisi dan situasi di negeri kita yang juga tidak menentu juntrungannya. Minimal dalam perencanaan dan perawatan jelas tidak dilakukan secara maksimal layak infrastrurut untuk pelayanan publik di Kota Tangerang yang sangat terkesan asal-asalan dilakukan, mulai dari lampu penerangan jalan pada malam hari yang memprihatinkan hingga jalan berlubang yang cuma dilakukan tambal sulam dan tidak cukup membuat pengguna jalan merada nyaman, karena tambalan jalan yang dilakukan bukan saja tidak sempurna, tapi seperti dilakukan dengan setengah hati atau untuk mengirit dana perbaikan agar bisa lebih banyak yang dikatongi oleh perugas pelaksana maupun mereka yang membuat perencanaan anggaran.


Jalan di Kota Tangerang dan sekitarnya yang cukup buruk dan membahayakan warga masyarakat sebagai pengguna, bisa dilihat di sepanjang Jalan Mohammad Toha hingga Jalan Leo Baru hingga ujungnya di Tanah Tinggi yang juga nyaris selalu macet setiap waktu, kecuali oada tengah malam menjelang pagi.


Meski begiru, toh  kerawanan dan kenyaman tetap membuat hati cemas, karena cukup rawan dari tindak kejahatan yang cenderung meningkat pada akhir belakangan akibat kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik.


Pasilitas umum jalan yang rusak tanval sulam seperti jalan sepanjang dari pusat Kota Tangerang hingga Kutabumi dan seterusnya -- yang sering dilakukan penggalian -- entah untuk kabel dan saluran air bersis, juga tidak memiliki saluran pembungan air hingga cukup lama menggenangi jalan raya, kendati hujan sudah cukup lama behenti.


Kecuali itu, jalan sepanjang dari Kita Tangerang sampai kawasan PIK 2 (Pantai Indah Kapuk 2) selalu dilalui truk pengangkut tanah dari daerah Tangerang Selatan untuk menguruk proyek PIK 2 yang tetap terus berjalan dengan muatan penuh berkusar diatas 30 ton beratnya. Agaknya, karena itu pula jalan seoanjang Mihamad Toha di Kota Tangerang hampir salalu dalam keadaan yang rusak.


Suara protes dari warga masyarakat seperti sedang menunggu reaksi lebih keras lagi, seperti mahasiswa Indonesia yang selalu merasa terpaksa untuk melakukan aksi dan unjuk rasa untuk membuka telinga dan mata aparat pemerintan yang juga ikut  membungkam mulutnya sendiri seperti wakil rakyat yang sudah terlalu kenyang melahap duit rakyat.


Sikap yang bijak dari pemerintah -- tak hanya Pemerintah Pusat, tapi juga Pemerintah Daerah -- hendaknya tak perlu menunggu aksi dan unjuk rasa dilakukan ileh mahasiswa maupun warga masyarakat. Sebab fungsi dan  tigas melayani itu sudah dibayar  oleh pajak yang didulang dari tetesan keringat rakyat. Lantaran itu rakyat berhak menikmati pelayanan yang maksimal dari fasilitas umum yang harus dan wajib disediakan sebaik mungkin dari pemerintah. Sikap yang lebih beradab ini akan membentuk dan membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan patut memberi apresiasi terhadap nawaitu    pemerintah yang akan selalu dipahami sangat mulia dan terhotmat.




Tangerang, 25 Juni 2026