Postingan

Jaga Kewarasan Anak Muda, Djarot Saiful Hidayat Ajak Generasi Muda Peduli Politik dan Berani Mengawal Perubahan

Jurnalinti24news

 







BANJARBARU – Puluhan anak muda berkumpul di Café Garis Kota, Banjarbaru, Minggu (1/11/2026), untuk mengikuti diskusi bertema “Menjaga Kewarasan Anak Muda”. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tersebut menghadirkan politisi senior PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, sebagai narasumber utama.





Café Garis Kota milik politisi muda PDI Perjuangan Kota Banjarbaru, Qomal, selama ini kerap menjadi ruang pertemuan dan diskusi bagi kalangan anak muda. Tempat tersebut juga dimanfaatkan sebagai wadah untuk membangun tradisi berpikir kritis dan membicarakan berbagai persoalan kebangsaan




Dalam diskusi tersebut, Djarot Saiful Hidayat mengajak generasi muda untuk tetap menjaga nalar kritis, integritas, serta kepedulian terhadap kondisi politik dan tata kelola pemerintahan.


Djarot yang pernah menjabat Wali Kota Blitar selama dua periode, anggota DPR RI, Wakil Gubernur DKI Jakarta hingga Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan bahwa anak muda tidak boleh apatis terhadap politik.


“Anak muda harus peduli pada politik, jangan sampai buta politik. Anak muda dan politik itu seperti ikan dengan air, tidak bisa dipisahkan. Kalau anak muda diam, tidak peduli dan cuek, maka politik akan dikuasai orang-orang tidak waras, dan pada saat itu, kehancuran negara akan terancam,” ungkap Djarot.


Menurutnya, kepedulian generasi muda terhadap politik menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan bangsa. Anak muda harus mampu membedakan kepemimpinan yang dibangun atas dasar integritas dengan kepemimpinan yang hanya mengejar kepentingan dan kekuasaan.


Puluhan peserta tampak antusias mengikuti pemaparan tersebut. Sejumlah pertanyaan kritis turut disampaikan, khususnya mengenai kepemimpinan generasi muda saat ini yang dinilai menghadapi tantangan integritas, kejujuran, dan komitmen terhadap kepentingan bangsa.


Menanggapi hal itu, Djarot menekankan bahwa usia muda tidak otomatis mencerminkan kualitas kepemimpinan. Menurutnya, integritas, komitmen, dan kejujuran merupakan nilai utama yang harus dimiliki setiap calon pemimpin.


“Anak muda semestinya memiliki integritas, komitmen dan kejujuran. Bila anak muda ternyata tidak jujur, tidak punya integritas dan komitmen pada bangsa dan negara, atau turut memanipulasi hukum dan mengambil jalan pintas untuk kekuasaan, maka yang muda hanyalah umurnya, sedangkan mental dan sikapnya sudah uzur, keropos, tidak bisa diharapkan lagi,” tegasnya.


Diskusi tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan, di antaranya M. Syarifuddin atau Bang Dhin, Fazrulrahman, Noorhalis Majid, Mardian, Rizki Erimunadi, Ahmad Zaini, Riswan Setiandy, Eka Putri Agustina, serta sejumlah pengurus DPC PDI Perjuangan Banjarbaru.


Noorhalis Majid yang turut diminta memberikan pandangan menegaskan bahwa anak muda harus memiliki karakter progresif dan tidak sekadar menunggu perubahan terjadi.


Ia mengingatkan bahwa sejarah telah memberikan pelajaran penting, yakni generasi muda tidak hanya menunggu kesempatan, tetapi juga harus berani mengambil peran dalam mendorong perubahan.


Menurut Noorhalis, menjaga kewarasan anak muda dapat dimulai dari lingkungan pergaulan dan topik pembicaraan sehari-hari. Ia mengajak generasi muda untuk lebih banyak mendiskusikan persoalan publik, mulai dari kondisi politik dan bangsa, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga semakin sulitnya lapangan pekerjaan.


Jika persoalan-persoalan tersebut tidak menjadi perhatian dalam ruang diskusi anak muda, menurutnya, patut dipertanyakan kepada siapa harapan perubahan bangsa akan disandarkan.


Sementara itu, M. Syarifuddin atau Bang Dhin menyampaikan bahwa PDI Perjuangan membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk terlibat dalam politik dan turut memikirkan masa depan pemerintahan.


“PDI Perjuangan membuka pintu seluas-luasnya bagi anak muda agar turut memikirkan perbaikan, pembenahan dan penataan kelola pemerintahan agar adil bagi segenap masyarakat, termasuk adil bagi generasi mendatang,” ujarnya.


Menutup diskusi, Djarot mendorong agar dialog dan percakapan kritis seperti ini terus dilaksanakan. Menurutnya, ruang diskusi yang sehat dapat menjadi sarana bagi anak muda untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta saling menjaga nalar kritis dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.


Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa peran generasi muda tidak cukup hanya ditandai dengan usia dan semangat perubahan. Lebih dari itu, masa depan bangsa membutuhkan anak muda yang berani bersikap, memiliki integritas, peduli terhadap persoalan masyarakat, dan konsisten memperjuangkan kepentingan publik.